Rabu, 16 Januari 2013

Apa Yang Sebenarnya Terjadi Di Mali?

pejuang mali_islampos
http://i2.wp.com/islampos.com/wp-content/uploads/2013/01/pejuang-mali_islampos.jpg?resize=620%2C413APA yang sebenarnya terjadi di Mali? Negeri yang terkurung oleh daratan ini sejak hari Jumat (11/1/2013), dihantam dengan serangan militer oleh pasukan Prancis yang mengaku mendapatkan mandat dan wewenang dari PBB.

Mali terletak di Afrika Barat, sebelumnya merupakan jajahan Prancis. Negara terbesar kedua di Afrika Barat ini berbatasan dengan Aljazair
di sebelah utara, Niger di timur, Burkina Faso dan Pantai Gading di selatan, Guinea di barat daya, serta Mauritania di barat. Perbatasannya di sebelah utara memanjang ke tengah gurun Sahara. Mayoritas penduduknya tinggal di wilayah selatan, di mana terdapat Sungai Niger dan Senegal. Negara yang dahulunya bernama Sudan Prancis ini mengambil namanya dari Kekaisaran Mali.

Pada 20 Desember 2012, untuk membantu Mali merebut kembali wilayah utara negeri itu yang kini dikuasai kelompok Islam, Dewan Keamanan PBB, menyetujui pengiriman pasukan militer Afrika. Para pejuang di Tuareg dan kelompok militan Islam yang dihubungkan dengan Al-Qaidah memanfaatkan kudeta pada Maret tahun lalu untuk menguasai wilayah utara yang luas, atau Azawad.

Di Azawad, entah bagaimana mulanya, Islam menyebar demikian pesat dan tak terkendali. Ingat, di Mali, 90 persen penduduknya beragama Islam. Konon, di bawah tangan Iyad Ag Ghali, mantan pejuang Azawad dan mantan diplomat Touareg yang terakhir menjabat sebagai wakil konsul jenderal Mali di Arab Saudi, Azawad kembali memeluk nilai-nilai Islam yang terus saja ditolak oleh presiden negeri saat ini.

Dalam pernyataan yang dirilis secara teratur sejak akhir tahun lalu, kepemimpinan Mali telah berulang kali menekankan visi politik dalam mendirikan sebuah negara sekuler di Azawad. Baru-baru ini, pemerintah menggarisbawahi lagi perbedaan besar mereka dengan Anshoruddin yang juga berulang kali menyatakan “akan menetapkan hukum Syariah di Mali, tidak hanya di Azawad”. Ini adalah komunike yang jelas yang membawa Prancis—dan bukan tidak mungkin akan segera diikuti oleh negara-negara Barat lainnya untuk mulai sedikit mengalihkan kepala ke Mali.

Di Azawad, sejak adanya Anshoruddin secara rapi dan teratur, bar dan depot alkohol menutup, penjarahan milik pribadi tak lagi terjadi dan akhirnya angka kriminalitas yang memang selalu jadi nama tengah negara-negara Afrika, turun drastis.

Terlepas dari kebenaran atau kepalsuan dari semua pemberitaan tentang label invasi Prancis, aspek budaya, sosial dan spiritual dari populasi Azawad sebagian besar bersahaja, maka, kemungkinan dan asumsi “Islamisasi radikal” yang disebut dari Azawad tidak diperiksa secara menyeluruh. Coba mari kita bayangkan, selama berabad-abad lamanya 1,3 juta penduduk Azawad hidup rukun, dan sekarang mengapa lantas harus ada alasan untuk tidak aman?

Orang-orang Touareg, Songhai, Peulhs dan Moor telah hidup bersama satu sama lain sejak abad ke-14 ketika Kekaisaran Songhai berkuasa dan sampai saat ini, mereka masih berdampingan menghadapi kesulitan hidup dan kekeringan alam yang biasa menyerang wilayah tersebut. Touareg, Moor dan Peulhs memiliki kesamaan gaya hidup pastoral bahkan jika mereka tumbuh secara menetap. Peulhs dan Songhai adalah kelompok etnis yang anggotanya melampaui Azawad dan perbatasan Mali. Bahasa mereka, budaya dan tradisi tersebar di seluruh Afrika Barat di mana Islam moderat dipraktekkan dan bisa pendampingan dengan Kristen dan animisme.

Tapi ini bukan cerita film “The God Must Be Crazy” atau sepenggal kisah tentang Frederic Kanoute pemain bola Muslim yang berasal dari negara ini. Ini adalah permulaan invasi—sama seperti yang dilakukan Amerika di Afghanistan dan Iraq. (islampos)

0 komentar:

Poskan Komentar